Tahukah kita, pada saat kita tepat berada di hari kelahiran kita banyak roh-roh jahat yang akan mengunjungi kita. Oleh sebab itu agar kita yang memiliki hari ulang tahun terlindungi dari pengaruh jahat tersebut, maka kita perlu mengundang orang-orang untuk mengelilingi kita dan berpesta. Dengan adanya banyak suara dan keramaian maka roh-roh jahat tersebut akan takut dan tidak akan mengganggu kita. Dan tahukan kita bahwa kepercayaan tersebut adalah keyakinan budaya pagan di masa kuno.

Atau barangkali kita belum mengetahui bahwa setiap orang mempunyai roh pelindung atau daemon yang hadir pada setiap kelahirannya dan menjaga dia selama hidupnya. Roh ini mempunyai hubungan mistik dengan tuhan (dewa) yang hari kelahirannya sama dengan orang yang merayakan hari ulang tahun itu. Tahukah kita, pada setiap hari ulang tahun seseorang, menyalakan lilin ulang tahun adalah hal yang sangat penting karena merupakan suatu penghormatan kepada orang yang berulang tahun dan dapat mendatangkan keberuntungan baginya. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin ditempatkan pada kue karena kepercayaan bahwa asap dari lilin akan membawa keinginan serta doa mereka kepada dewa-dewa yang tinggal di langit. Kue-kue yang bulat seperti bulan dan diterangi dengan lilin-lilin kecil harus diletakkan di kuil ARTEMIS. Jangan dilupakan, ARTEMIS adalah Dewi Bulan putri dari ZEUS. Ucapan selamat ulang tahun dan harapan semoga bahagia merupakan bagian penting dari perayaan ini. Ucapan ini mempunyai kuasa untuk kebaikan atau keburukan karena seseorang lebih dekat kepada dunia roh pada hari itu. Dan tahukan kita siapa yang memiliki kepercayaan tersebut? Siapa yang melakukan ritual yang dipersembahkan untuk Dewa dan Dewi mereka? Ternyata kepercayaan tersebut adalah keyakinan yang dianut oleh orang-orang Romawi. Sedangkan kebiasaan menyalakan lilin pada kue dimulai oleh orang-orang Yunani.

Islam datang sebagai agama yang sempurna. Kita meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk menerima pengabdian kita kecuali hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seorang muslim sejati adalah mereka yang selalu berfikir ilmiah dengan selalu menimbang apapun berdasarkan sumber dalil-dalil yang shahih. Ia tidak akan bermudah-mudahan meniru suatu amalan atau kebiasaan yang dilakukan oleh siapapun sebelum ia temukan dasar yang jelas. Ia bukanlah seperti yang disifati oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an sebagai berikut,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al-Baqarah:170)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman:21)

Disamping itu, berkaitan dengan kebiasaan sebagian orang dengan perayaan ulang tahu, seorang muslim hendaknya takut terhadap hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah mengatakan, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka." (HR. Abu DawudAl-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401) Terlebih lagi apabila kita telah mengetahui kebiasaan perayaan ulang tahun bukanlah berasal dari kebiasaan bisa kaum kafir. Tapi merupakan kebiasaan yang dibangun atas dasar sebuah pengabdian kaum kafir kepada Dewa Dewi mereka. Wallahu a’lam.

“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim (berserah diri kepada Allah)." (QS. Ali Imran: 64)

@Kota Mangga, 190115

Referensi Tambahan:
https://alkaoetsar.wordpress.com/2013/12/09/sikap-yang-islami-menghadapi-hari-ulang-tahun/
http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2011/07/ulang-tahun-adalah.html
http://tututelme.blogdetik.com/index.php/2011/10/asal-usul-kebiasaan-perayaan-hari-ulang-tahun/

Read More ...

0 komentar

وَأَنَّٱ إِلَىٰ رَبِّكَ لْمُنتَهَىٰ “dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu).” (QS. An-Najm:42) Ayat ini mengandung mutiara hikmah yang sangat dalam, yaitu segala keinginan dan cita-cita yang tidak ditujukan kepada Allah dan tidak berhubungan dengan-Nya adalah semu dan sia-sia. Sebab, keinginan seperti itu tidak mempunyai tujuan akhir sama sekali, padahal segala sesuatu pasti akan berujung kepada Allah. Semua urusan pasti berpulang kepada pencipta-Nya, kehendak-Nya, hikmah-Nya dan ilmu-Nya. Allah adalah puncak dari segala tujuan dan keinginan. Mencintai sesuatu bukan karena-Nya akan menyebabkan keletihan dan siksa. Seluruh perbuatan yang tidak ditujukan untuk-Nya akan sia-sia dan percuma. Setiap hati yang tidak terkait dengan-Nya akan celaka, serta terhalang untuk mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Atas dasar itu, tidak ada yang paling pentng untuk dicari selain Allah, dan tidak ada tujuan akhir selain kepada-Nya. (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah – Terjemah Kitab Fawaidul Fawaid) Sebuah renungan malam @ Kota Mangga
Read More ...

0 komentar

Jika kita mempelajari lebih dalam tentang bank syariah di Indonesia serta praktek bisnis yang dijalankannya dibandingkan dengan fatwa-fatwa yang ada, kita akan temukan bahwa saat ini bank syariah belum sepenuhnya berjalan secara murni syariah. Memang ada beberapa sebab dan alasan yang mendasari praktek tersebut. Namun lepas dari berbagai alasan yang ada, seorang muslim yang mendambakan tegaknya syariah dalam berbagai sektor kehidupan, alangkah baiknya jika kita tidak hanya melihat keburukan yang ada dan menutup mata dari kebaikan yang ada walaupun mungkin itu kecil. Bank syariah dengan segala kelebihan dan kekurangannya, harus kita akui ia memiliki beberapa perbedaan dengan bank konvensional. Setidaknya bagi saya, ada tiga perbedaan yang mendasari alasan mengapa kita mesti menabung di bank syariah, diantaranya: Pertama, bank syariah berada di bawah pengawasan MUI melalui Dewan Syariah Nasional (DSN). Tugas dari DSN ini adalah menumbuhkembangkan penerapan nilai-nilai syariah dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan sektor keuangan pada khususnya, termasuk usaha bank, asuransi, dan reksa dana. Selain itu, DSN juga mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan syariah. Memang benar pada kenyataannya fatwa yang telah dikeluarkan MUI melalui DSN belum sepenuhnya diterapkan oleh perbankan syariah. Namun pengertian belum sepenuhnya bukan berarti tidak sama sekali. Hal ini yang hendaknya menjadi catatan. Apabila bank syariah yang telah memiliki badan pengawas syariah saja tidak atau belum bisa menerapkan sepenuhnya aturan-aturan syariah, maka bagaimana halnya dengan bank yang memang tidak ada kontrol prinsip-prinsip syariah sama sekali? Alasan kedua, dana dari pihak ketiga di bank syariah disalurkan ke sektor usaha yang syar’i. Muhammad Syafi’i Antonio dalam bukunya Bank Syariah dari Teori ke Praktek menyebutkan beberapa hal pokok yang diperhatikan oleh Bank Syariah sebelum menyetujui pembiayaan adalah: 1. Apakah objek pembiayaan halal atau haram? 2. Apakah proyek tersebut menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat? 3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan asusila 4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian 5. Serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan ilegal serta dapat merugikan syiar Islam secara langsung ataupun tidak langsung Bandingkan dengan pembiayaan yang ada di bank konvensional. Apabila kita menyimpang uang di bank konvensional, maka tanpa sepengetahuan kita uang tersebut dapat disalurkan ke bisnis diskotik, perdagangan minuman keras, peternakan babi, atau usaha lain yang merugikan syiar Islam. Karena memang pada kenyataannya tidak ada filter syar’i di bank konvensional dalam menyalurkan dana pihak ketiga. Asal prospek bisnisnya menguntungkan, bank konvensional siap mendanai. Maka renungkanlah kemana saja uang kita telah diputar oleh bank konvensional? Boleh jadi tanpa kita sadari kita telah tolong menolong dalam usaha yang diharamkan. Alasan ketiga, mengambil sisi positif dari pernyataan praktisi perbankan syariah bahwa perbankan syariah saat ini dalam proses belajar dan bertahap menuju perbaikan ke arah murni syariah. Besar harapan kita semua, semoga suatu saat bank syariah benar-benar berjalan sesuai syariah secara kaffah. Ada hal yang menarik ketika saya pernah mengikuti seminar perbankan syariah. Ketika sesi tanya jawab, salah seorang dari peserta mencoba menyampaikan kritik kepada bank syariah yang menurutnya belum sepenuhnya berjalan sesuai syariah. Hal yang menarik adalah saat pemateri menjawab pertanyaan tersebut dengan kembali bertanya kepada peserta terlebih dahulu. Pertanyaan yang diajukan kepada peserta tersebut kurang lebih demikian, “Usia Bapak saat ini berapa?” Peserta yang bertanya tersebut menjawab yang menunjukkan bahwa beliau tidak lagi muda, bahkan menurut saya beliau sudah sangat dewasa. Kemudian pemateri pun kembali bertanya, “Dengan usia Bapak sekarang, apa Bapak sudah merasa dapat menjalankan prinsip-prinsip syariah dalam kehidupan Bapak?” Spontan saya pun tertegun dengan pertanyaan kedua dari pemateri tersebut. Saya dan mungkin semua peserta seminar saat itu apabila ditanya dengan pertanyaan yang sama pasti akan menjawab belum. Kita dengan usia kita masing-masing saat ini harus jujur mengakui belum bisa menjalankan prinsip-prinsip syariah secara kaffah atau menyeluruh. Sedangkan bank syariah yang baru berdiri tahun 1991 di Indonesia dengan usia mudanya sekarang sudah kita paksakan untuk langsung murni syariah. Kira-kira demikian jawaban pemateri tersebut sebelum menjelaskan alasan-alasan yang ada. Memang impian bank syariah berjalan secara murni syariah adalah impian kita bersama. Semua kita pasti mendambakan hal tersebut. Namun kita semestinya juga tidak menutup mata tentang kondisi perbankan yang masih muda ini ditengah sistem konvensional yang telah sekian ratus tahun mengakar di dunia. Tidakkah kita ingin menghargai dan mendukung kebaikan yang ada di bank syariah disamping kita juga ikut memperbaiki kekurangannya. Kontrol dan kritik terhadap perbankan syariah sangatlah perlu dan berguna. Adanya kontrol dan kritik tersebut diharapkan membantu laju perjuangan umat muslim terutama dalam hal perbaikan perbankan syariah agar tidak kandas di tengah jalan dan tidak menyeleweng dari jalur yang benar. Namun apakah kita hanya bisa berkontribusi di dalam kritik (yang membangun) tersebut sementara dana kita sendiri kita percayakan kepada lembaga keuangan konvensional dan secara aktif membantu pertumbuhan laju ekonomi berbasis konvensional? Kesimpulannya, bank syariah saat ini masih memiliki banyak kekurangan bahkan dari sisi sistem syariahnya sendiri. Namun dengan kekurangan yang ada, masuk akal kalau ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa dengan menabung di bank syariah berarti kita mengambil keburukan atau madharat yang lebih ringan dibanding menabung di bank konvensional. Sebuah kaidah yang indah mengatakan, “Jika kita tidak bisa mengerjakan semua kebaikan, maka jangan kita tinggalkan semuanya” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah berkata, “Orang yang cerdas bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yg cerdas adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan dan mana yang lebih buruk dari dua keburukan” Wallahu ta’ala a’lam.
Read More ...

0 komentar